oleh Syaikh Muhammad Hisham Kabbani “Di masa Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam Tasawwuf adalah sebuah realitas tanpa nama, sekarang Tasawwuf adalah sebuah nama, tetapi hanya sedikit yang mengetahui realitasnya.” Ummat Islam sekarang membutuhkan ulama-ulama salih yang melaksanakan ajaran Islam dengan benar (‘alimun ‘aamil), mencoba dengan segala kemampuannya untuk mengembalikan apa yang telah rusak dalam agama Islam selama bertahun-tahun ke belakang dan mereka yang mampu membedakan antara yang benar dan salah, halal dan haram, yang percaya kepada yang haqq dan melawan kebatilan, serta tidak menakut-nakuti siapa pun yang berada di jalan Allah. Ummat Muslim sekarang tidak mempunyai orang yang bisa memberi nasihat atau membimbing mereka dalam mempelajari agama dan perilaku atau kebiasaan yang terpuji yang diajarkan dalam Islam. Sebaliknya, kita hanya melihat para ulama yang pura-pura mengetahui sesuatu, lalu berusaha menerapkan ide-ide dan aqidah Islam yang telah mereka kotori kepada setiap orang. Pada berbagai kesempatan konferensi misalnya, mereka memberikan ceramah mengenai Islam dari perspektif yang sangat sempit dan terbatas, tidak berdasarkan bimbingan para sahabat Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam atau para Imam besar Islam dan tidak pula berdasarkan konsensus sebagian besar para ulama Islam. Jika para ulama itu mau mendengar nuraninya lebih dalam dan kembali kepada loyalitas dan kejujuran dalam Islam tanpa campur tangan pemerintah atau kekuatan lain yang mengontrol negara-negara Muslim dengan uang mereka, mengabdikan dirinya hanya untuk berdakwah dan irsyad (memberi petunjuk ke jalan yang lurus) dan berdzikir kepada Allah dan Rasulullah r, barulah situasi dalam dunia Islam akan berubah dan kehidupan Muslim akan meningkat dengan pesat. Harapan kita pada tahun 1416 H ini, Muslim di Amerika dan di seluruh dunia akan bersatu kembali, saling berhubungan dalam satu tali, yaitu Tali Allah untuk memantapkan sunnah dan syari’ah Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam. Jika orang-orang ingin meninjau sejarah lebih dalam lagi, mereka akan menemukan bahwa setelah perjuangan para sahabat yang gagah berani, Islam tersebar ke seluruh penjuru Timur dan Barat serta Timur Jauh melalui dakwah dan irsyad para ulama dan para pengikut Tasawwuf (Sufisme). Mereka mengikuti jejak yang benar dari para Khalifah Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam, radi-Allahu ‘anhum. Mereka adalah para ulama Sufi yang sejati, yang menopang pengajaran al-Qur’an dan Sunnah dan tidak pernah menyimpang dari keduanya. Sifat zuhud dalam Islam (asceticism) berkembang pada abad pertama Hijriah dan dikembangkan dalam sekolah-sekolah yang mempunyai fondasi yang kuat dan menjadikan al-Qur’an dan syari’ah sebagai dasar pengajarannya, dan dijalankan oleh para ulama zahid yang dikenal sebagai Sufi. Mereka di antaranya adalah keempat Imam pertama, yaitu Imam Malik, Imam Abu Hanifa, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, begitu pula al-Imam Abi ‘Abdallah Muhammad AL-BUKHARI, Abul Husain MUSLIM bin al-Hajjaj, Abu ‘Isa TIRMIDZI. Yang lainnya di antaranya Hasan al-Basri, al-Junaid, Imam Awzai’ termasuk at-Tabarani, Imam Jalaluddin as-Suyuti, Ibnu Hajar al-Haythami, al-Jardani, Ibnu Qayyim al-Jawzi, Imam Muhyiddin bin Syaraf bin Mari bin Hassan bin Husain bin Hazam bin NAWAWI, Imam Abu Hamid GHAZALI, Sayyid Ahmad al-Farouqi as- Sirhindi. Dunia Muslim telah mengenal Islam melalui usaha para ulama zahid ini yang dikenal sebagai Sufi karena loyalitas mereka, ketulusan dan kemurnian hatinya. Kita tidak menyembunyikan fakta bahwa pada saat itu, beberapa musuh Islam datang dan mengadakan pendekatan yang ekstrim, menggunakan nama Sufisme dan berpura-pura menjadi seorang Sufi pada saat menyebarkan ide-ide anehnya dengan tujuan untuk memusnahkan ajaran Sufi yang sejati dan meracuni pikiran Muslim mengenai Tasawwuf yang telah dianut mayoritas Muslim. Tasawwuf sejati berlandaskan zuhud dan ihsan (kemurnian hati). Imam-Imam besar ummat Muslim yang ajarannya diikuti di semua negeri Muslim, dikenal mempunyai guru-guru Sufi. Imam Malik, Imam Abu Hanifa (berguru kepada Ja’far as-Sadiq as), Imam Syafi’i (yang mengikuti Syayban ar-Rai’ ) dan Imam Ibnu Hanbal (gurunya adalah Bisyr al-Hafi ) yang semuanya menganut Tasawwuf. Semua pengadilan dan universitas di negri-negri Muslim menerapkan ajaran dari keempat Imam tersebut hingga sekarang. Misalnya: Mesir, Libanon, Yordania, Yaman, Djibouti, dan beberapa negara lain mengikuti madzhab Syafi’i. Sudan, Maroko, Tunisia, Aljazair, Mauritania, Libya dan Somalia mengikuti madzhab Maliki. Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, Oman dan beberapa negara lain mengikuti madzhab Hanbali. Turki, Pakistan, India, Myanmar dan beberapa republik di Rusia mengikuti madzhab Hanafi. Negeri-negeri Muslim di Timur Jauh mengikuti madzhab Syafi’i. Sebagian besar pengadilan di negara-negara Muslim bergantung kepada fatwa-fatwa dari keempat madzhab ini dan keempatnya diterima. Imam Malik dalam ucapannya yang terkenal mengatakan, “man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam yatasawaf faqad tafasaq, wa man tasawaffa wa tafaqaha faqad tahaqaq.” Yang artinya, “Barang siapa yang mempelajari Tasawwuf tanpa Fiqih, dia adalah seorang kafir zindik (heretic), dan barang siapa yang mempelajari Fiqih tanpa Tasawwuf, dia adalah seorang yang fasik (korup), dan barang siapa yang mempelajari Tasawwuf dan Fiqih, dia akan menemukan Kebenaran dan Realitas dalam Islam.” Ketika sarana transportasi masih sulit, Islam dapat tersebar dengan cepat melalui usaha yang tulus dari para musafir Sufi yang telah terdidik dengan baik sekali dalam disiplin zuhud yang tinggi (zuhud ad-dunya) yang memang diperlukan oleh mereka yang telah dipilih Allah untuk melaksanakan tugas suci itu. Hidup mereka adalah dakwah dan mereka bertahan hidup hanya dengan roti dan air. Dengan cara hidup seperti itu mereka mampu mencapai Barat dan Timur Jauh dengan keberkahan Islam. Di abad 6 dan 7 Hijriah, Tasawwuf berkembang dengan pesat karena diiringi kemajuan dan usaha yang keras dari para guru Sufi. Setiap kelompok dinamai menurut nama gurunya, untuk membedakan dengan kelompok yang lain. Sama halnya dengan sekarang, setiap orang memegang gelar dari universitas di mana dia menjadi lulusannya. Walau demikian tentu saja Islam tetap sama, tidak pernah berubah dari satu guru Sufi ke guru Sufi yang lain, seperti halnya Islam tidak pernah berubah dari satu universitas ke universitas yang lain. Namun demikian di masa lalu murid sangat dipengaruhi oleh perilaku dan moral yang baik dari guru-guru mereka. Oleh sebab itu mereka mempunyai sifat tulus dan loyal. Tetapi sekarang para ulama kita ‘kering’ dan Islam diajarkan kepada mereka di universitas non-Muslim oleh para professor non-Muslim (Jika kalian pandai, kalian bisa mengerti). Guru-guru Sufi meminta muridnya untuk menerima Allah sebagai Pencipta mereka dan Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam sebagai hamba dan utusan-Nya, menyembah Allah pada saat sendirian, meninggalkan kebiasaan menyembah berhala, bertaubat kepada Allah, mengikuti Sunnah Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam, memurnikan hati mereka, membersihkan ego mereka dari kesalahan dan untuk memperbaiki aqidah mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mereka juga mengajarinya untuk bersifat jujur dan dapat dipercaya dalam segala hal yang mereka lakukan, bersabar dan takut kepada Allah, mencintai sesama, bergantung kepada Allah, dan segala sifat atau perilaku terpuji lainnya yang dianjurkan dalam Islam. Untuk mencapai seluruh tingkatan yang tulus dan murni, mereka memberi murid-muridnya do’a yang berbeda-beda seperti yang dilakukan oleh Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam, para sahabat, dan para Tabi’iin. Mereka mengajarkan Dzikir-Allah, mengingat Allah dengan membaca al-Qur’an, do’a-do’a dan tasbiih dari Hadits serta dengan membaca Nama-Nama Allah dan sifat-sifatnya yang terdapat dalam tahlil, tahmiid, takbiir, tamjiid, tasbiih menurut ayat-ayat dan Hadits Rasulullah r mengenai dzikir (ini dapat ditemukan pada semua buku Hadits termasuk Bukhari, Muslim, Tabarani, Ibnu Majah, Abu Dawud dan lain-lain di bagian ‘Dzikir dalam Islam’ di mana setiap orang dapat merujuk ke sana). Guru Sufi ini (ulama sejati) menolak ketenaran, jabatan tinggi, uang, dan kehidupan yang materialistik, tidak seperti ulama sekarang yang mengejar ketenaran dan uang. Mereka bersifat zahid dan hanya bergantung kepada Allah, tunduk kepada firman-Nya, “ma khalaqtul Jinni wal Insi illa li ya’ buduun.” “Kami tidak menciptakan Jinn dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Sebagai hasil dari perilakunya yang baik dan sifat zuhudnya itu, mereka mampu meyakinkan orang-orang kaya untuk membangun masjid dan panti (khaniqah, zawiyyah) untuk seluruh ummat Islam, juga membagikan makanan gratis dan penginapan gratis. Dengan demikian Islam dapat tersebar dengan cepat dari suatu negara ke negara yang lain melalui khaniqah dan masjid tersebut. Tempat seperti itu, di mana setiap orang miskin dapat makan dan menginap serta para tuna wisma dapat berteduh merupakan tempat pembersihan hati bagi orang miskin dan merupakan tempat terjalinnya hubungan antara yang kaya dengan yang miskin, antara yang hitam dengan yang kuning, merah, putih, Arab dan non-Arab. Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam suatu hadits, “Tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab kecuali dalam hal kebajikan.” Tempat ini membuat orang dari berbagai ras dan bangsa berkumpul bersama. Sufi memegang teguh Sunnah dan Syari’ah. Sejarah mereka penuh dengan keberanian dan perjuangan di jalan Allah, jihad fi-sabiil-illah, meninggalkan negeri mereka untuk menyebarkan Islam dengan satu metode, yaitu cinta. Mereka mengajarkan manusia untuk mencintai sesamanya tanpa perbedaan ras, usia dan gender. Mereka memandang setiap orang berhak untuk dihormati terutama wanita, orang yang teraniaya, dan fakir miskin. Sufi bagaikan bintang yang terang yang menyinari seluruh dunia, memberi semangat kepada semua orang untuk berjihad fi sabiil-illah, berjuang di jalan Allah, menyebarkan Islam, menolong fakir miskin, tuna wisma, dan mereka yang membutuhkan pertolongan baik jauh maupun dekat. Dengan Imannya, mereka bisa mencapai Asia Tengah sampai India, Pakistan, Tashkent, Bukhara, Daghestan, dan daerah-daerah lain seperti Cina, Malaysia, Indonesia dan lain-lain. Orang-orang Sufi sejati tidak pernah menyimpang dari Syari’ah dan Sunnah Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam serta al-Qur’an. Dua sumber utama Tasawwuf adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam, sebagaimana yang disampaikan lewat pemahaman Islam Sayyidina Abu Bakar radhiy-Allahu ‘anhu dan Sayyidina ‘Ali karram-Allahu wajhahu yang dianggap sebagai dua guru utama seluruh aliran Sufi. Sayyidina Abu Bakar radiy-Allahu ‘anhu mewakili satu aliran Tasawwuf. Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam bersabda mengenai beliau, “Apa yang Allah tuangkan ke dalam hatiku, aku tuangkan pula ke dalam hati Abu Bakar.” “ma sab-Allahu fee sadrii syayan illa wa sabatuhu fii sadrii Abi Bakrin.” (Hadiqa Nadiah, diterbitkan di Kairo, 1313 H. hal.9). Allah berfirman dalam al-Qur’an (9:40), “…sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya (dari Makkah), dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang teman dan keduanya berada dalam gua.” Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadits lain, “Matahari tidak pernah bersinar lebih cerah pada orang-orang selain Abu Bakar radiy-Allahu ‘anhu, kecuali pada para Nabi.” (lihat Suyuti, Sejarah para Kalifah, Kairo, 1952. Hal. 46). Banyak hadits lain yang menerangkan posisi Abu Bakar as-Siddiq radiy-Allahu ‘anhu. Aliran lain dalam Tasawwuf berasal dari Sayyidina ‘Ali karram-Allahu wajhahu, mengenai beliau banyak sekali hadits yang bila dipaparkan akan memakan banyak halaman. Sunnah Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam dan Syari’ah yang melambangkan kewajiban, serta Ihsan yang melambangkan perilaku baik, semuanya melekat menjadi karakter para ulama Sufi, mulai dari Sayyidina Abu Bakar radiy-Allahu ‘anhu yang menjadi kalifah Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam pertama, sampai sekarang. Pada abad ke-13 Hijriah (± 19 M) sebuah madzhab yang dipengaruhi oleh ajaran dua ulama Islam dari abad ke-7 Hijriah (± 14 M) muncul. Madzhab ini adalah madzhab baru dalam Islam, yang walaupun mempunyai dasar madzhab Hanbali tetapi ternyata terdapat perbedaan ‘aqidah. Walaupun madzhab ini juga menerima Tasawwuf, tetapi dia lebih banyak mempunyai batasan dan mempunyai interpretasi yang sempit tentang apa yang dibolehkan dalam Islam dibandingkan dengan keempat madzhab yang pertama. Akhir-akhir ini para pengikut madzhab ini melakukan penyimpangan terhadap ajaran asli dari sang pendiri madzhab dan sering membesar-besarkan secara ekstrim dan membuat tuduhan kepada ummat Muslim berdasarkan fatwa dari ulama-ulama modern yang hanya memiliki pemahaman Islam secara harfiah dengan sudut pandang yang terbatas, namun menjadi penentang bagi kelompok mayoritas Muslim. Keyakinan baru ini sekarang berkembang dengan pesat dengan dukungan minoritas Muslim yang mempunyai keyakinan sendiri dan interpretasi sendiri terhadap al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam. Orang-orang ini sekarang menentang Tasawwuf dan mencoba untuk meremehkan semangat dan usaha keras para Sufi sejati dalam menyebarkan Islam ke seluruh dunia selama kurun waktu 1300 tahun ke belakang. Sebagai ummat Muslim, Kami menghormati semua madzhab dalam Islam tanpa diskriminasi. Tetapi sebaliknya Kami tidak menerima orang yang memaksakan ide-idenya kepada Kami, karena Kami mengikuti keyakinan yang telah diterima oleh mayoritas Muslim, yang menerima Tasawwuf. Di Amerika, Kami terkejut melihat sejarah dan kebudayaan Islam selama 1400 tahun disangkal dan ditolak oleh sebagian kecil ulama dengan cara pandang mereka sendiri, seolah-olah selama 1400 tahun para ulama pengikut Sufi dan keempat madzhab tidak ada dan tidak pernah ada. Sebagai informasi bagi saudara-saudari, Kami sampaikan beberapa nama dari sekian nama ulama modern yang mengikuti aliran Sufi dan keempat madzhab, yang mewakili mayoritas Muslim di seluruh dunia. Mereka adalah: Mufti Mesir, Hassanain Muhammad al-Mukhloof, anggota Liga Muslim Dunia, Muhammad at-Tayib an-Najjar, Presiden Sunnah dan Syari’ah Internasional dan Rektor Universitas al-Azhar, Syaikh ‘Abdallah Qanun al-Hassani, ketua Majelis Ulama Maroko dan Deputi Liga Muslim Dunia, Dr. Hussaini Hashim, Deputi Universitas al-Azhar Mesir dan Sekjen Institut Penelitian Makkah, as-Sayyid Hashim al-Rifai, mantan Menteri Agama Kuwait, as-Syaikh Sayyid Ahmad al-Awad, Mufti Sudan, asy-Syaikh Malik al-Kandhalawi, Presiden Liga Muslim Pakistan dan Rektor Universitas Asyrafiya, Ustaz Abdul Ghafoor al-Attar, Presiden Komunitas Penulis Sudi Arabia, Qadi Yusuf bin Ahmad as-Siddiqui, Jaksa Pengadilan Tinggi Bahrain, Muhammad Khazraji, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Zabara, Mufti Yaman, asy-Syaikh Muhammad asy-Syadili an-Nivar, Rektor Universitas Syari’ah Tunisia, asy-Syaikh Khal al-Banani, Presiden Liga Muslim Mauritania, Syaikh Muhammad Abdul Wahid Ahmad, Menteri Agama Mesir, Syaikh Muhammad bin Ali Habasyi, Ketua Liga Muslim Indonesia, Syaikh Ahmad Kuftaro, GrandMufti Syria, Syaikh Abu Saleh Mohammad al-Fattih al-Maliki, Ondurman, Sudan, Syaikh Muhammad Rasyid Kabbani, Mufti Libanon, asy-Syaikh as-Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hassani, Professor Syari’ah dan guru di dua Masjid Suci, Makkah dan Madinah, dan masih banyak lagi yang berada di sekitar Arab dan negeri-negeri Muslim lainnya. Wahai saudara-saudariku yang tercinta, juga ayah, ibu, dan anak-anak sekalian, Islam bersifat toleran (hilm), Islam adalah cinta, Islam adalah Kedamaian, Islam adalah rendah hati, Islam adalah kesempurnaan, Islam adalah zuhud, Islam adalah Ihsan. Islam berarti hubungan antar sesama, Islam berarti keluarga, Islam adalah persaudaraan, Islam berarti persamaan, Islam adalah satu tubuh, Islam adalah ilmu pengetahuan, Islam adalah spiritualitas. Islam mempunyai pengetahuan eksternal dan internal yang sama baiknya. ISLAM ADALAH TASAWWUF, TASAWWUF ADALAH ISLAM. Terakhir, Islam adalah Cahaya yang diturunkan Allah melalui utusan-Nya, Rasulullah Muhammad r, yang merupakan simbol kebenaran Allah. Tanpa keraguan, beliau adalah perantara bagi semua orang, dan ini telah disebutkan dalam semua buku fiqih. Semoga Allah mengampuni Kami atas kesalahan dan kekurangan dalam presentasi ini. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Yang terlemah di hadapan Allah, hamba yang melaksanakan Sunnah Rasulullah salla-Allahu ‘alayhi wasallam, Syaikh Muhammad Hisham Kabbani: Presiden As-Sunna Foundation of America 607 A West Dana Mountain View, CA 94041
Kompas, Rabu, 27 Februari 2008 Pada awal tahun 2008, sistem kelistrikan Jawa-Bali terganggu. Dua pembangkit listrik tenaga uap hanya beroperasi 50 persen akibat terhambatnya pengangkutan batu bara melalui jalur laut (Kompas, 3/1/2008). Sebagai solusi manajerial, Dewan Komisaris PLN memberhentikan Direktur Pembangkitan dan Energi Primer yang dianggap bertanggung jawab atas kelalaian dalam manajemen suplai batu bara itu (Antara, 5/1/2008). Sayang, dalam kasus ini solusi manajerial saja sering tidak cukup karena sifatnya jangka pendek dan cenderung berulang tanpa menyelesaikan masalah utama. Terbukti, ancaman pemadaman listrik secara bergilir di seluruh Jawa-Bali terjadi lagi pada bulan Februari ini saat pasokan batu bara lagi-lagi terhambat setelah kapal-kapal tongkang yang membawa batu bara tidak bisa merapat akibat cuaca buruk dan gelombang laut yang tinggi (Kompas, 20/2/2008). Penyelesaian yang komprehensif memerlukan solusi sistemik karena kebutuhan listrik terus meningkat, dan yang paling menjanjikan adalah dengan mengalirkan listrik, bukan mengangkut batu bara. Dalam 10-20 tahun ke depan, permintaan listrik dunia diperkirakan berlipat ganda dengan batu bara menyuplai sekitar 40 persen dari keseluruhan pembangkitannya (Agensi Internasional untuk Energi, 2006). Di Indonesia, permintaan listrik di Pulau Jawa dan Bali meningkat 6,2 persen per tahun sehingga kurang dari lima tahun lagi beban puncak listrik Jawa-Bali akan naik 7.000 megawatt (MW), dari 15.000 menjadi 22.000 MW. Untuk itu, harus dibangun pembangkit listrik baru—sebagian besar masih berbahan bakar batu bara—demi menghindari krisis energi listrik. Masalahnya, cadangan batu bara umumnya terletak jauh dari pusat beban listrik (kota-kota besar) sehingga suplai energi skala besar jarak jauh tak terelakkan. Suplai energi Sumatera-Jawa Pulau Sumatera memiliki cadangan batu bara yang besar. Muara Enim, Sumatera Selatan, mengandung cadangan batu bara hingga 13,5 miliar ton. Adalah pilihan logis untuk mengeksploitasi batu bara di Sumatera sebagai solusi krisis energi Jawa-Bali. Ada dua skenario dasar suplai energi batu bara Sumatera-Jawa. Pertama, mengangkut batu bara atau turunannya (misalnya dalam bentuk gas sintetik) dari lokasi penambangan di Sumatera menggunakan transportasi kereta api, kapal laut, atau pipa (gas sintetik) untuk menyuplai pembangkit listrik di Jawa. Kedua, membangun pembangkit listrik di lokasi penambangan batu bara di Sumatera, mengalirkan listrik ke Jawa dengan saluran transmisi tegangan tinggi. Perhitungan penulis dengan kasus hipotetik menunjukkan, mengalirkan 1.000 MW listrik sejauh 1.000 kilometer menggunakan transmisi listrik arus searah (600 kilovolt) adalah pilihan paling ekonomis, dengan biaya pembangkitan listrik di titik beban jatuhnya sebesar 3,5 sen dollar AS. Sebagai pembanding, mengalirkan listrik dengan transmisi arus bolak-balik (750 kV), mengonversi batu bara menjadi gas sintetik, dan mengalirkannya lewat pipa atau mengangkut batu bara dengan kereta api menghasilkan biaya pembangkitan listrik masing-masing 4,5 sen, 4,7 sen, dan 5,2 sen dollar AS. Keuntungan teknis membangun pembangkit listrik di dekat pusat beban adalah fleksibilitas suplai batu bara. Jika pembangkit listrik dibangun di Jawa, batu bara dapat disuplai tidak hanya dari Sumatera, tetapi juga dari tempat lain, seperti Kalimantan, bahkan dari luar negeri. Yang perlu diperhitungkan kemudian adalah keandalan dan manajemen suplai saat, misalnya, pengangkutan batu bara melalui jalur laut terhambat cuaca buruk, gelombang laut tinggi, kurangnya kapal pengangkut, atau terbatasnya kapasitas pelabuhan. Namun, dari sisi ekonomi, suplai energi dengan mengangkut batu bara menggunakan kereta api dan pipa (gas sintetik) masih terbentur biaya investasi yang amat tinggi, baik dalam pembangunan rel kereta api, pipa gas, maupun fasilitas pengonversian batu bara menjadi gas sintetik. Akibatnya, kedua metode ini hanya ekonomis untuk transfer energi skala raksasa. Lester Lave dan timnya di Universitas Carnegie Mellon, AS, menghitung, membangun jaringan rel kereta api atau pipa gas sintetik baru ekonomis jika energi yang ditransfer di antara dua titik lebih dari 9.000 MW (Environmental Science & Technology, 2005). Perlu dicatat, dalam perhitungan ini digunakan batu bara jenis sub-bituminous, sedangkan penambangan di Sumatera menghasilkan batu bara jenis lignit yang hanya mengandung kadar energi setengahnya sehingga semakin besar skala energi yang harus ditransfer di antara dua titik sebelum pilihan ”mengangkut batu bara” menjadi ekonomis. Dari aspek lingkungan pun jauh lebih sulit mengatasi polusi langsung, seperti polusi suara atau debu pada penduduk sekitar saat pembangkit listrik dibangun di daerah padat penduduk seperti Jawa. Sebaliknya, pembangunan transmisi listrik jarak jauh akan menghubungkan dua jaringan listrik Jawa dan Sumatera (interkoneksi) yang meningkatkan keandalan teknis keduanya. Rugi-rugi listrik per kilometer pada transmisi listrik arus searah (2,5 persen per 1.000 km) yang jauh lebih rendah daripada arus bolak-balik (empat persen per 1.000 km) menjadikan transmisi arus searah jauh lebih ekonomis untuk jarak jauh. Dampak polusi langsung pun akan amat berkurang saat pembangkit listrik dibangun jauh dari daerah padat penduduk. Kebutuhan listrik yang meningkat amat tinggi di Jawa-Bali mungkin menuntut kombinasi solusi dengan sebagian pembangkit listrik tetap dibangun di Jawa dan sebagian lagi di dekat lokasi penambangan batu bara di luar Jawa, dengan segala peluang maupun risikonya dari sisi ekonomi, teknis, lingkungan, bahkan sosial dan politik. Maka, yang terpenting, solusi harus dipilih dengan menimbang semua aspek (sistemik). Bila perlu, dilakukan penelitian yang teliti dengan melibatkan pihak publik baik dari kalangan akademisi maupun industri hingga keputusan terbaik dapat diambil. Muhamad Reza ABB Corporate Research, Power Technologies Original link: http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.02.27.03275799&channel=2&mn=158&idx=158
(Diambil dari satu artikel di: www.physicstoday.org)  Reza: Jika di AS dana riset universitas sebagian besar masih dari pemerintah, bagaimana (seharusnya) untuk universitas di Indonesia?
 DETIKNEWS, Senin, 21/11/2005 17:21 WIB Den Haag - Jaringan listrik mikro (mikrogrid) akan menjadi alternatif sistem kelistrikan dari yang selama ini dikenal. Mikrogrid juga lebih ramah lingkungan.
Hal itu dikemukakan Muhamad Reza, kandidat Phd pada Universitas Teknologi Delft, dalam konferensi internasional pertama "Future Power Systems 2005, Sistem Kelistrikan Masa Depan 2005", yang digelar di Crowne Plaza Hotel, Schiphol, 16-18/11/2005.
Melalui email yang diterima detikcom, 21/11/2005, Reza menceritakan konferensi itu didorong oleh krisis BBM yang melanda dunia saat ini. Sekitar 300 ahli dan praktisi ketenagalistrikan dari 40 negara berkumpul untuk mempresentasikan dan mendiskusikan peluang dan perkembangan terbaru dari pembangkitan listrik tenaga alternatif yang terbarukan.
Berbagai potensi pembangkitan berbasis tenaga angin, matahari, panas bumi, ombak, biomassa, dan lain-lain di dunia dipaparkan. "Dan yang terpenting, sebagai spesialis di bidang tenaga listrik, presentasi dan diskusi difokuskan pada antisipasi berbagai potensi yang mungkin timbul dari implementasi pembangkit energi alternatif ini terhadap kualitas sistem kelistrikan yang telah ada," kata Reza.
Reza yang mempresentasikan tiga makalah ilmiah, menjelaskan bahwa terutama di Eropa, pengembangan pembangkit listrik dari energi alternatif (terbarukan) diprediksi akan mengarah pada berkembangnya jaringan mikrogrid. Pada sistem 'tradisional' yang umum dikenal saat ini (PLN), hanya konsumen listrik saja yang terhubung ke jaringan distribusi listrik. Di masa depan, diprediksi bahwa yang tersambung ke jaringan distribusi listrik itu selain konsumen listrik juga sekaligus produsen listrik, dalam skala kecil tadi.
Ilustrasinya, kata Reza, pada saat rumahtinggal dilengkapi dengan panel surya, maka rumahtinggal tersebut tidak hanya berfungsi sebagai konsumen listrik tetapi juga dapat berfungsi sebagai produsen listrik.
"Ketika semakin banyak konsumen listrik yang beralih untuk juga menjadi produsen, pada akhirnya jaringan-jaringan distribusi listrik akan berrevolusi menjadi jaringan listrik di mana produksi tenaga listrik internal di jaringan distribusi tersebut dapat memenuhi kebutuhan konsumennya," papar Reza.
Pada situasi tersebut, jaringan distribusi listrik itu bisa beroperasi secara independen, dalam arti tidak bergantung pada jaringan transmisi listrik tegangan tinggi ala PLN saat ini. Dapat dibayangkan bahwa pada satu komplek perumahan, tiap-tiap rumahtangga dilengkapi dengan panel surya dan turbin gas mini, sehingga kebutuhan konsumsi listrik di komplek perumahan dapat terpenuhi dari pembangkit tenaga surya ini. Pada kondisi itulah, jaringan distribusi listrik tersebut telah bertransformasi menjadi jaringan listrik mikro.
Di Eropa, terkait dengan opini publik yang sangat kuat tentang kelestarian lingkungan, diperkirakan pembangkitan listrik skala kecil akan sangat berkembang pada konsumen-konsumen listrik, dalam bentuk panel surya, generator bertenaga biodisel, turbin gas mikro, dll. Pada gilirannya, revolusi perubahan sistem kelistrikan raksasa di Eropa untuk menjadi jaringan-jaringan mikro hanya tinggal menunggu waktu.
Bagaimana dengan Indonesia? Reza, yang asal Kota Kembang ini menjelaskan bahwa justru di Indonesia, pengembangan jaringan listrik mikro dapat menjadi alternatif yang penting dalam pengembangan sistem listrik secara keseluruhan.
Menurut Reza, ada dua masalah pokok yang dapat dijawab dengan pengembangan jaringan listrik mikro ini. Pertama, pada daerah-daerah terpencil, pengadaan listrik dalam bentuk jaringan mikro dapat lebih mudah dan murah untuk dilakukan daripada membangun tiang-tiang raksasa dan jaringan kawat dalam jarak yang jauh untuk mengakses daerah terpencil tersebut.
Kedua, pada daerah perkotaan, pengadaan listrik dalam bentuk jaringan mikro memungkinkan terlibatnya konsumen untuk secara aktif memenuhi kenaikan permintaan atas beban listrik, sehigga beban perusahaan listrik negara untuk mengadakan suplai tambahan atas kenaikan beban tersebut dapat dikurangi. ( es )
 DETIKNEWS, Rabu, 27/10/2004 08:33 WIB Den Haag - Sistem pembangkit listrik stokastik diharapkan menjadi alternatif sistem konvensional bersumber bahan bakar tak terbarui: minyak bumi dan batubara.
Hal itu disampaikan Muhammad Reza, kandidat doktor teknik energi listrik pada Technische Universiteit Delft, Belanda, kepada detikcom Selasa (26/10/2004) petang waktu setempat.
Menurut Reza, yang dimaksud listrik stokastik adalah listrik yang dihasilkan dari pasokan sumber energi tak tentu, misalnya dari tenaga tiupan angin atau sinar matahari. Dengan kata lain listrik stokastik adalah kebalikan dari listrik deterministik (dapat ditentukan) atau listrik konvensional yang telah lazim dimanfaatkan seperti dihasilkan PLN, yang tersentralisasi, berskala besar, dan berbahan bakar minyak bumi atau batubara.
Ke depan, kata Reza, penggunaan listrik stokastik ini harus menjadi keniscayaan karena ramah lingkungan dan bersifat renewable (terbarukan).
"Mengingat bahwa sistem tenaga listrik pada awalnya didisain untuk menggunakan sistem pembangkitan tenaga listrik deterministik, maka diperlukan studi terhadap sistem tenaga listrik di masa depan yang banyak menggunakan sistem pembangkit tenaga listrik stokastik ini," ujar jebolan ITB, yang mempresentasikan makalahnya tentang listrik stokastik tersebut pada seminar sekaligus launching organisasi para matematikawan Indonesia di Belanda, The Indonesian Applied Mathematics Society in the Netherlands (IAMS-N) di ruang Anthony Snijderzaal, Fakultas Teknik Elektro, Matematika dan Informatika, 21/10/2004 lalu.
Dikatakan Reza, pengembangan tenaga listrik stokastik ini bisa dilakukan baik dalam skala besar, contohnya wind park, maupun skala kecil yang tersebar langsung di pengguna, misalnya dengan pemasangan solar cell (panel surya) di atap-atap rumah tangga atau konsumen listrik dan pemasangan kincir angin kecil di daerah pertanian.
Untuk melangkah ke arah itu, kata Reza, diperlukan inisiatif negara dan dukungan masyarakat atau sebaliknya. Dimulai dengan keputusan politik, kemudian operasionalnya dapat dilakukan oleh pemerintah atau swasta yang ikut mengembangkannya diberikan stimulasi tertentu, misalnya keringanan pajak. Dengan demikian proses meninggalkan ketergantungan pada listrik bersumber bahan bakar minyak bumi dapat dimulai.
Pertanyaannya kemudian adalah apakah produk listrik stokastik itu harga jualnya ke konsumen nanti lebih menarik daripada produk listrik deterministik?
Reza mengatakan bahwa untuk itu memang masih diperlukan penelitian yang lengkap. Dijelaskan bahwa komponen biaya konstruksi itu banyak, mencakup di dalamnya biaya pembangunan, investiasi mesin-mesin pembangkit, biaya pembangunan jaringan transmisi dan jaringan distribusi listrik, biaya pembebasan tanah yang dilalui jaringan listrik, komponen biaya bahan bakar, komponen biaya operator, komponen biaya pemeliharaan alat, dsb.
"Nah, dari semua komponen biaya itu sampai saat ini komponen pencemaran lingkungan jarang dihitung. Bisa saja misalnya harga jual produk listrik stokastik lebih mahal per kwh-nya, tapi dengan menghitung komponen risiko terhadap lingkungan dia menjadi relatif lebih murah," demikian Reza. ( es )
| |